Home » » Seniman Tari Nusantara: Sardono W. Kusumo

Seniman Tari Nusantara: Sardono W. Kusumo

Written By aminudin .com on Jumat, 22 Februari 2013 | 13.57

Beruntunglah Indonesia punya Sardono W. Kusumo. Seniman dengan gaya rambut panjang sebahu ini merupakan sosok seniman tari Indonesia yang telah mendunia. Ia lahir di Surakarta 6 Maret 1945. Ia juga adalah Guru Besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang dikukuhkan pada 14 Januari 2004. Karya tari yang telah ia lahirkan sudah puluhan. Karyanya telah termasuk kaliber dunia, salah satunya “Dongeng dari Dirah”. Karyanya ini telah dibawakan di Prancis (1974). Berkat karyanya yang fenomenal itu, ia dipuji kalangan seni tari dunia, termasuk tokoh tari dunia Maurice Bejart dan Robert Wilson. "Dongeng dari Dirah" adalah karya Sardono W. Kusumo yang diangkat dari kisah klasik asal Bali, Calon Arang.

Bukan hanya di Perancis, ia pun pernah melakukan perjalanan keliling ke Amerika Serikat (1993). Di negeri Paman Sam ini ia menampilkan karya senii tari berjudul Passage Through the Gong. Para penikmat sajian tari mengapresiasi karyanya dengan luar biasa. Maka, perjalanan keliling pun ia tempuh di Amerika, dari Next Wave Festival Broklyn Academy of Music New York, San Francisco, Los Angeles, hingga Burlington. Karena antusiasme warga New York, ia dan tim melakukan pergelaran dua kali di ibu kota dunia itu. Pentas kedua digelar di BAM Carey Playhouse, New York.

Sardono W. Kusumo adalah seniman tari yang mampu menyajikan suasana lokal Indonesia yang dipadukan dalam kreativitas-kreativitas baru. Ia tidak segan untuk langsung terjuan ke masyarakat pedalaman untuk menghayati kehidupan masyarakat yang ingin disajikannya dalam wujud tarian. Ia berusaha menerjemahkan pola hidup dan budaya masyarakat di Nusantara. Contohnya, untuk membuat kreasi tari dengan latar belakang masyarakat Dayak, ia harus tinggal di tengah hutan belantara Kalimantan bersama komunitas Dayak. Begitu pula saat dia terinspirasi suku Nias di Sumatera Utara. Hasilnya, komposisi tari "Meta Ekologi" pernah ia pentaskah yang mencerminkan kepeduliannya terhadap lingkungan (1975). Tariannya ini buah inspirasi setelah dia mendalami kehidupan Dayak dan Nias. Karyanya yang lain tentang lingkungan adalah "Hutan Plastik" (1983) dan "Hutan Merintah" (1987). Ia juga pernah mementasakan karyanya "Maha Buta" pertanda dia tidak melupakan kehidupan spiritual yang diberikan Sang Khalik.

Pada 2000, ia mementaskan karya tari “Nobody’s body” dengan dibarengi peluncuran buku berjudul Hanuman, Tarzan, dan Homo Erectus. Waktu itu ia dikukuhkan jadi profesor seni tari.  Bukunya ini adalah kumpulan tulisan Sardono W. Kusumo tentang tari. Sosok Sardono W. Kusumo pun pernah menerima Distinguished Artist Award dari International Society for the Perfoming Arts Foundation (ISPA), pada saat Masyarakat Seni Pertunjukan Internasional menyelenggarakan kongres di Singapura pada 20 Juni 2003. ISPA memberi penghargaan untuk dedikasi Sardono W. Kusumo bagi dunia seni pertunjukan, terutama untuk kawasan Asia. Asal tahu saja, penghargaan ini telah disematkan juga pada tokoh seni tari dunia yaitu Martha Graham, Jerome Robbins, Mikhail Barysnikov, dan Sir Yehudi Menuhin. Sardono W. Kusumo adalah seniman pertama dari Asia yang mendapat penghargaan ISPA (waktu itu bersama seniman asal Singapura, Ong Keng Sen).

Perjalanan karya tarinya pernah ia pentaskan juga di Brooklyn, USA, pada tahun 1993 dimana ia tampil di Festival Next Wave di Brooklyn Academy of Music, New York, Amerika Serikat. Waktu itu, karya tari yang ia pentaskan adalah Passage Through the Gong. Selain itu, ia pun berkeliling mancanegara dengan  mementaskan tari bertemakan lingkungan, antarai alin Soloensis (Manusia Solo), di tiga kota, Hamburg (Jerman), Seoul (Korea Selatan) dan Jakarta. Soloensis kemudian dibawa ke Rio de Jeneiro (Brasil) pada tahun 1999. Selanjutnya pada 1995, di forum Art Summit Indonesia, iamenampilkan karya seni sejarah Opera Diponegoro di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Bersama-sama menggarap Samgita Pancasona (1968), Sumantri Gugur dan Rama Bargawa (1971), Ngrenesworo, Ketek Ogleng dan Damarwulan (1974).

Karya tarinya juga meramah hingga ke dunia sinema, dima ia bermain dalam film Rembulan dan Matahari. Karya tari yang pernah ia pentaskan antara lain: Dongeng Dari Dirah (1974), Tarian Cak Rina (1976), Pesta Desa Teges Kanignan (1976), Yellow Submarine (1977), Meta Ekologi (1979). Kiskrenda Kanda (1982), Hutan Plastik (1983), Angin Timur (1983), Kerudung Asap/Hutan Terbakar (1986), 10 Menit dari Borobudur (1987). Seniman tari Sardono Waluyo Kusumo juga pernah menerima Habibie Award bidang Ilmu Budaya (2008)




Baca artikel terkait:

Bagikan artikel ini :
Posted by : www.aminudin.com
www.aminudin.com Updated at: 13.57

Artikel Menarik Lainnya

Translate

 
Support : Site Map | About | Contact | Privacy Policy
Copyright © 2007. Aneka Artikel dan Informasi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger